Kamis, 17 September 2009

Demi Cinta Rela Jalan Kaki 400 Km


BEIJING - Jika dewi cinta belum berpihak, usaha sekeras apapun belum tentu bisa membuat pujaan hati takluk. Itulah yang dialami seorang pria asal Chongqing, China.

Seperti ditulis Xinhua, Kamis (3/9/2009), pria itu rela berjalan lebih dari 400 kilometer menuju Chengdu di Provinsi Sichuan dengan harapan memenangkan hati mantan kekasihnya.

Konon, setelah putus dari perempuan yang menjadi kekasihnya selama empat tahun, pria itu mulai sadar tak dapat hidup tanpanya. Dia pun membuat pengumuman akan berjalan menuju kampus kekasihnya itu di Chengdu, guna mendapatkan kembali sang gadis.

Namun sayangnya perjalanan kaki selama 15 hari itu sia-sia. Sang gadis mengaku sudah menjalani kehidupannya yang baru.

Kwek weeeewwww!!!!

Rabu, 16 September 2009

MAMPUKAH KITA MENCINTAI TANPA SYARAT?


Sebuah kisah nyata untuk perenungan. Buat para suami baca ya... istri & calon istri juga boleh....
Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam. Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun.
Mereka dikarunia 4 orang anak Disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Itu
terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnya pun sudah tidak bisa digerakkan lagi.
Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran,
menyuapi,dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya di depan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum. Untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga
siang hari dia bisa pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa-apa saja yg dia alami seharian.
Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun,
dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka. Sekarang anak-anak mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.
Pada suatu hari ke empat anak Suyatno berkumpul di rumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing-masing. Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.
Dengan kalimat yg cukup hati-hati anak yg sulung berkata “Pak kami ingin sekali merawat ibu. Semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak. Bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu”.
Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya, “Sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibu pun akan mengijinkannya. Kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini. Kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami
akan merawat ibu baik-baik secara bergantian”.
Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak-anak mereka.
“Anak-anakku, jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk
nafsu, mungkin bapak akan menikah. Tapi ketahuilah dengan adanya ibu
kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup. Dia telah melahirkan kalian,” sejenak kerongkongannya tersekat, “kalian yg selalu kurindukan hadir
didunia ini. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini. Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah batin bapak bisa bahagia
meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yg
masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu
yg masih sakit?”
Sejenak meledaklah tangis anak-anak pak Suyatno. Mereka pun melihat butiran-butiran kecil jatuh dipelupuk mata ibu Suyatno. Dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu.
Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber. Merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno, kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa-apa. Di saat itulah meledak tangis beliau. Tamu yg hadir di studio yang kebanyakan kaum perempuan pun tidak sanggup menahan haru. Disitulah Pak Suyatno bercerita.
“Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup
saya, dan sewaktu dia sehat dia pun dengan sabar merawat saya, mencintai saya
dengan hati dan batinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak
yg lucu2.
“Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama. Dan itu
merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk
mencintainya apa adanya. Sehat pun belum tentu saya mencari penggantinya
apalagi dia sakit.”
Itulah salah satu contoh seorang lelaki yang mampu mencintai istrinya bagaimana pun keadaannya. Jarang memang orang yang seperti itu, tapi bukan berarti tidak ada. Lantas mampukah kita sendiri seperti itu?

Selasa, 15 September 2009

Mengatasi Depresi dengan Menikah


Sebuah penelitian yang dilakukan Ohio State University menemukan bahwa pernikahan bisa mengurangi tingkat depresi. Penelitian dengan sampel pada ribuan orang ini menunjukkan bahwa orang-orang depresi yang kemudian menikah menunjukkan peningkatan kesejahteraan psikologis yang lebih tinggi daripada mereka yang belum menikah.
Bahkan, ketika efek pernikahan ini diperbandingkan antara kelompok yang mengalami depresi dengan kelompok yang tidak mengalaminya, mereka yang depresi mendapat manfaat psikologis yang jauh lebih besar dari pernikahan mereka dibanding kelompok yang tidak depresi.
Hasil penelitian ini meruntuhkan asumsi sebelumnya bahwa manfaat psikologis dari pernikahan tergantung kualitas pernikahan itu sendiri. Dengan asumsi itu, orang-orang depresi seringkali terjebak dalam pernikahan yang tidak bahagia karena perilaku dan sikap depresif mereka, sehingga akhirnya depresi mereka malah semakin menjadi-jadi.

Sabtu, 12 September 2009

Kasih Sayang untuk Buah Hati


Rasulullah SAW bersabda, ''Muliakan anak-anakmu, dan didiklah mereka dengan akhlak yang baik.'' (HR Ibnu Majah).Anak adalah buah hati kedua orang tua. Tanpa hadirnya anak, mungkin suatu pernikahan belumlah terasa lengkap.

Kehadiran anak merupakan kehendak Allah SWT. Bila Allah SWT menghendaki sepasang suami istri memiliki anak, itu anugerah yang tiada terkira. Karena itu, anak adalah titipan-Nya yang patut disyukuri.Titipan Allah SWT itu sudah sepatutnya dijaga, dibesarkan, dan dididik dengan baik oleh kedua orang tua, dengan ilmu, agama, perhatian, dan kasih sayang. Semua faktor itu sangat penting bagi perkembangan anak.

Jika ilmu dan agama sangat bermanfaat bagi kehidupan di dunia dan akhirat, kasih sayang orang tua adalah kebutuhan anak-anak sejak mereka lahir. Bila sejak kecil mereka telah kehilangan kasih sayang orang tuanya, akan dapat memengaruhi pertumbuhan, terutama perkembangan emosionalnya.

Misalnya, anak-anak menjadi pribadi yang keras, kasar, dan mudah marah. Tidak jarang anak-anak yang dibesarkan tanpa kasih sayang, mereka suka berbohong, mencuri, dan menyakiti orang lain. Namun, bila orang tua membesarkan dengan kasih sayang, insya Allah mereka akan tumbuh menjadi anak yang dapat menyayangi sesama serta makhluk Allah SWT lainnya.

Umat Islam memiliki teladan, yakni Rasulullah SAW dan para sahabat dalam mendidik anak dengan kasih sayang. Anas bin Malik mengungkapkan bagaimana rasa sayang Rasulullah SAW kepada putranya, ''Aku tak pernah melihat seseorang yang lebih besar kasih sayangnya kepada keluarganya dibandingkan Rasulullah SAW.''
Meskipun anak-anak biasa merengek dan mengeluh serta banyak tingkah, tapi Nabi Muhammad SAW tidaklah marah, memukul, membentak, dan menghardik mereka.

Beliau tetap berlaku lemah lembut dan tetap bersikap tenang menghadapi mereka.
Masa depan anak merupakan tanggung jawab orang tuanya yang mendidik dan membesarkan. Sedapat mungkin orang tua tak hanya memberikan pendidikan di rumah, namun juga pendidikan formal yang tinggi. Dan selama mendidik itulah kasih sayang sangat penting peranannya dalam membesarkan anak.

Kasih sayang memang hal utama yang harus dimiliki setiap orang. Anak-anak pun sangat membutuhkan kasih sayang, baik dari orang tuanya maupun orang lain. Sikap-sikap Nabi Muhammad SAW patut ditiru oleh para orang tua dalam membesarkan anak-anaknya.Perilaku anak sangat tergantung dari contoh dan teladan orang tuanya. Karena itu, hanya akhlak dan budi pekerti luhurlah yang akan menjadikan masa depan anak sesuai dengan yang kita dambakan.

Diterbitkan Koran Republika
Rabu, 15 Juli 2009 pukul 01:12:00

Oleh Khilma Damayanti

Jumat, 11 September 2009

Chemistry CINTA


Mengapa mempunyai seseorang yang spesial sangat penting bagi kita sebagai manusia?
Tidak hanya untuk pertemanan, keamanan, atau kenyamanan, tapi karena kita mempunyai kebutuhan untuk mengekpresikan diri kita secara emosional dan intelektual. Kita memerlukan seseorang yang dapat dipercaya diajak bicara, membagi pengalaman, dan menumpahkan gagasan.
Kita menginginkan seseorang, yang dengannya kita dapat membagi kebahagiaan hidup, dan—yang terpenting—seseorang yang dapat memberikan tanggapan kepada kita: menanggapi ada yang kita katakan dan membiarkan kita tahu bagaimana keadaan kita. Kita perlu seseorang yang menjadi saksi untuk kita, membenarkan kita, dan membuat kita merasa utuh.
Ketika dua orang berkomunikasi secara terbuka dan teratur, kemudian mengekpresikan perasaan dan emosi mereka, mereka saling memberikan keyakinan dan harapan, serta hubungan untuk masa depan. Kita dapat merasakan ini, dan akan merasakan lebih banyak lagi saat kita mengekpresikan diri kita dalam cinta.
Ilmuwan telah membuktikan bahwa tanggapan emosional diantara dua orang yang jatuh cinta menyeimbangkan, mengatur, dan memengaruhi ritme anggota tubuh vital mereka, dan membuat mereka tetap sehat. Detak jantung, tekanan darah, keseimbangan hormon, dan penyerapan gula darah semakin baik saat dua orang secara emosional menyatu dalam cinta.
Dengan kata lain, ungkapan lama “Mereka mendapatkan chemistry,” bukan sekedar metafora. Orang yang jatuh cinta tidak sekedar hidup, tapi mereka cenderung hidup lebih aktif, lebih kaya, lebih sehat, lebih semangat, dan lebih lama.
Jadi, cinta memang penting untuk kesehatan dan kebahagiaan. Tapi mengapa terkadang sulit menemukannya?
Sepertinya aku sudah menemukannya.... bagaimana dengan kalian????

Jakarta 30 Juli 2009
Rahmat HM

ROMANTIKA De Javu



Suatu waktu, ketika aku sedang berkomunikasi dengan seorang wanita pujaan hatiku, tiba-tiba ia mengatakan “De Javu banget sih…” Aku baru sadar ternyata aku pun merasakan hal yang sama. Aku dan dia tengah mengalami de javu…

Hampir semua dari kita pernah mengalami apa yang dinamakan deja vu: sebuah perasaan aneh yang mengatakan bahwa peristiwa baru yang sedang kita rasakan sebenarnya pernah kita alami jauh sebelumnya. Peristiwa ini bisa berupa sebuah tempat baru yang sedang dikunjungi, percakapan yang sedang dilakukan, atau sebuah acara TV yang sedang ditonton. Lebih anehnya lagi, kita juga seringkali tidak mampu untuk dapat benar-benar mengingat kapan dan bagaimana pengalaman sebelumnya itu terjadi secara rinci. Yang kita tahu hanyalah adanya sensasi misterius yang membuat kita tidak merasa asing dengan peristiwa baru itu.

Keanehan fenomena deja vu ini kemudian melahirkan beberapa teori metafisis yang mencoba menjelaskan sebab musababnya. Salah satunya adalah teori yang mengatakan bahwa deja vu sebenarnya berasal dari kejadian serupa yang pernah dialami oleh jiwa kita dalam salah satu kehidupan REINKARNASI sebelumnya di masa lampau.

Menurut Tonegawa, tikus normal mempunyai kemampuan yang sama seperti manusia dalam mencocokkan persamaan dan perbedaan antara beberapa situasi. Namun, seperti yang telah diduga, tikus-tikus yang dentate gyrus-nya tidak berfungsi normal kemudian mengalami kesulitan dalam membedakan dua situasi yang serupa tapi tak sama. Hal ini, tambahnya, dapat menjelaskan mengapa pengalaman akan deja vu MENINGKAT SEIRING BERTAMBAHNYA USIA atau MUNCULNYA PENYAKIT-PENYAKIT DEGENERATIF seperti Alzheimer: kehilangan atau rusaknya sel-sel pada dentate gyrus akibat kedua hal tersebut membuat kita sulit menentukan apakah sesuatu ‘baru’ atau ‘lama’.

Seperti yang dilaporkan LiveScience, Kenneth Peller dari Northwestern University menemukan cara yang sederhana untuk membuat seseorang memiliki ‘INGATAN PALSU’. Karena itu, deja vu mungkin terjadi ketika secara kebetulan sebuah peristiwa yang dialami seseorang serupa atau mirip dengan gambaran yang pernah dibayangkan.

Tapi yang membuatku tertarik, kok bisa ya… aku dan wanita pujaan hatiku itu bisa sama-sama mengalami de javu? Apakah kita berdua merupakan pasangan cinta yang sudah bereinkarnasi? Atau mungkin karena kita sudah sama-sama tua? Atau kita berdua tengah menderita penyakit degeneratif? Atau mungkin kita berdua pernah membayangkan hal yang sama sebelumnya? Yang pasti aku menikmati ROMANTIKA ini…. Hahaaaayyyy!!!! Cwiiit....! Cwiiit....!!!

Jakarta, 02 Agustus 2009
Rahmat HM

Bukan TEORI CINTA

Orang-orang telah mencoba memahami dan menjelaskan cinta selama berabad-abad. Salah satu observasi terbaik tentang ini datang dari Yunani Kuno. Hampir dua ribu lima ratus tahun yang lalu, filsuf Plato berbicara tentang ini secara lengkap. Dalam symposium, ia mengatakan bahwa kita semua mencari bagian dari diri kita untuk menjadi utuh.

Plato menyebut kebutuhan manusia akan keutuhan ini sebagai “pencarian akan cinta”. Dalam symposium juga , Guru Plato, Socrates, berkata, “Dalam diri kekasih, kita mencari dan menginginkan apa yang tidak kita miliki.”

Setiap agama juga mempunyai pandangan masing-masing mengenai cinta, karena ia adalah pusat kepercayaan kita. Jika kita menghadiri pernikahan dalam Kristen, kita akan mendengar, apa yang dikatakan Saint Paul kepada Corinthian, “Cinta adalah kesabaran dan kebaikan. Cinta bukan kecemburuan atau kesombongan. Cinta bukan arogansi dan kekasaran. Cinta tidak memaksakan jalannya. Cinta bukanlah kemarahan atau kebencian. Cinta tidak bergembira atas kesalahan, tetapi bergembira dalam kebenaran. Cinta melahirkan semua hal, dan menahan semua hal. Cinta tidak pernah berakhir.

Kepercayaan Yahudi menegaskan bahwa seorang suami dan istri saling melengkapi. Menurut Rabi Harold Kushner, Talmud mengajarkan bahwa seorang lelaki tidak lengkap tanpa seorang wanita; begitu juga seorang wanita tidak lengkap tanpa suami.

Al-Qur’an juga menyebutkan: “Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan untuk saling melengkapi, sebagaimana malam melengkapi siang dan siang melengkapi malam.”

Ajaran Budha mengajarkan, menganalogikan cinta dan pernikahan sebagai penyatuan kekosongan dan kebahagiaan. Dalai Lama, pemimpin spiritual dari Budha Tibet, mengatakan: “Cinta dan kasih sayang adalah kebutuhan, bukan kemewahan. Tanpa itu, semua manusia tidak bisa hidup.”

Para ilmuwan sosial mengambil pendekatan lebih analitis untuk memahami cinta. Sebagai contohnya, Richard Rapson dan Elaine Hatfield, peneliti di Universitas Hawai, membagi cinta menjadi dua jenis yang mereka sebut passionate love dan compassionate love.

Mereka mendefinisikan passinate love sebagai suatu kerinduan yang begitu menggebu dan terus-menerus untuk bersatu dengan orang lain, yang melibatkan perasaan seksual yang hangat dan reaksi emosional yang kuat.

Compassionate love tidak semembara itu. Cinta ini diartikan sebagai perasaan kasih dan percaya kepada seseorang, dimana kita akan merasa sangat terikat dan ingin mendekatkan diri dengannya.

Robert Steinberg, seorang profesor psikologi dan pendidikan Yale University, mendukung teori segi tiga cinta. Dia percaya bahwa cinta terdiri dari PASSION, KEDEKATAN, dan KOMITMEN.
PASSION adalah bagian fisik-nya—ini yang membuat kita semangat dan berani, dan terkadang mendorong kita menuju keputusan yang salah. KEDEKATAN adalah kebahagiaan yang Anda rasakan karena dekat dan berhubungan dengan seseorang. KOMITMEN adalah saling bersepakat untuk membuat hubungan berhasil.
Menurut Steinberg, kombinasi yang berbeda dari tiga komponen ini menghasilkan cinta yang berbeda pula, dan saat kita mendapati ketiga hal tersebut bekerja sama, kita mendapatkan CINTA YANG ABADI.

Setelah kalian membaca teori-teori cinta diatas, maka yang perlu kalian pahami adalah bahwa CINTA ITU BUKAN SEKEDAR TEORI.... hahaha.... bingung-bingung deeechhh....!!!

Jakarta, 12 Agustus 2009

Rahmat HM